Terkini :
Dayah Mahyal Ulum Al-Aziziyah Kembali Menerima Pendaftaran Siswa(i) untuk Jenjang SMK, Info selengkapnya silahkan donwlaod brosurnya
Tampilkan postingan dengan label Ulama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ulama. Tampilkan semua postingan

Abu Kuta Krueng Ulama Kharismatik Aceh

Written By pergunuaceh on Rabu, 26 Maret 2014 | 06.38

Tgk H Usman bin Tgk Ali. yang lebih dikenal Abu Kuta Krueng lahir di Kuta Krueng Pidie Jaya pada tanggal 31 Desember 1940. Setelah menyelesaikan Sekolah Rakyat (SR) Beliau langsung menggeluti pengetahuan Islam di Dayah Ma’hadal Ulum Diniyyah Islamyyah (MUDI) Mesra Samalanga – Bireuen, semasa mengaji di Dayah MUDI Mesra Samalanga telah nampak terlihat kepribadian seorang ulama, mulai dari sifat, karakter hingga kemampuan menyerap berbagai ilmu pengetahuan dengan cepat.

Sebagai seorang murid, Tgk H Usman selalu menghormati gurunya, hingga ilmu yang beliau peroleh-pun mengandung keberkatan (bermanfaat), karena dalam keyakinan aneuk dayah memuliakan dan menghormati guru merupakan salah satu factor keberkatan pada ilmu. Dan hal ini dipraktekkan dalam keseharian Tgk H Usman, walhasil sepulang dari dayah MUDI Mesra Samalanga beliau mendirikan Dayah Darul Munawwar di Kuta Krueng, Bandar Dua yang dulunya tunduk ke kabupaten Pidie, namun sekarang masuk wilayah kabupaten Pidie Jaya setelah pemekaran pada tahun 2007 lalu.

Kehadiran Tgk H Usman yang akrab disapa Abu Kuta Krueng dalam kancah pendidikan di Aceh telah menoreh catatan sejarah Aceh sebagai bumi seribu dayah dan satu lagi bertambah lampu penerang di bumi Serambi Mekkah. Hari ini Abu Kuta dipandang sebagai seorang tokoh ulama karismatik Aceh yang selalu dihormati dan menjadi kebanggaan orang Aceh.

Berikut Profil Singkat Abu Panton (Tgk H Ibrahim Bardan)

Tgk  H Ibrahim Bardan yang lebih dikenal dengan sebutan Abu Panton, seorang ulama kharismatik di Provinsi Aceh. Ulama kelahiran Matang Jeulikat Kecamatan Seunuddon Kabupaten Aceh Utara pada 1945 Belum bisa mengecap dunia pendidikan umum berawal dari dibakarnya Sekolah Rakyat (SR) setempat, tempat di mana ia mengeynam pendidikan pertama pada 1953, oleh pihak yang berkonflik saat itu. Akibatnya tidak ada lagi pendidikan di kecamatan Seunuddon, namun anak-anak usia sekolah di daerah itu beruntung dapat belajar mengaji dari janda-janda tua dan imam meunasah (mushalla) setempat. “Saat itu saya tidak memiliki cita-cita karena kalau menjadi guru akan dibunuh sementara menjadi ulama juga dikejar-kejar,” katanya. Ia mengaku hidup dalam keadaan trauma akibat konflik bersenjata, setiap kali diantar untuk belajar mengaji ke dayah-dayah (pesantren) di Aceh selalu merasakan konflik. “Sekarang saya juga belum merasa damai meskipun kesepakatan (MoU) damai sudah ditandatangani. Hati saya masih berdebar-debar, khawatir kapan akan terjadi lagi konflik . 

Ia sempat berkeinginan menuntut ilmu di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ar Raniry pada 1963, Meskipun tidak mengeyam pendidikan formal, Abu Panton menjadi sosok berpengaruh yang berkiprah luas dengan kegiatan padat mulai dari memberi ceramah keagamaan dan diskusi ilmiah bahkan diundang menjadi peserta dan pembicara seminar baik di tingkat nasional maupun internasional. Walaupun Beliau belum pernah mengecap dunia pendidikan Umum, Abu Panton pernah menulis sebuah buku “Resolusi Konflik Dalam Islam”. Dari orasinya, tergambar Abu Panton sangat akrab dengan persoalan-persoalan konflik. Pengalaman masa kecilnya mengenai konflik tahun 1953 yang begitu segar diingatnya dan ditutur sebagaimana aslinya. Sehingga audien seperti melihat bagaimana pedihnya nasib anak bangsa ini ketika itu. Anak-anak generasi muda kehilangan harapan, para orangtua hidup dalam keadaan ketakutan.

Kepahitan peristiwa konflik hampir dirasakan oleh semua anak Aceh baik generasi tua maupun generasi muda. Sekarangpun sisa-sisa kepedihan itu masih dirasakan oleh sebagian masyarakat kita. Mungkin karena itu, masalah konflik ini telah menjadi perhatian para ulama, yang salah satu diantaranya adalah Abu Panton. Seperti harapannya pada penutupan bedah buku ini, hendaknya tidak ada lagi konflik di masa akan datang. Pemikiran Abu Panton mengenai resolusi konflik, menurut saya, dapat digolongkan satu penemuan baru. Kendatipun sistimatika buku ini diawali Al-Shulh (perdamaian) tetapi sebenarnya ajaran atau pemikiran penting dari Abu panton adalah “lita‘arafu”. Hal ini belum banyak yang menjadi perhatian para ahli konflik sebelumnya.

Namun, Aceh Berduka, Ulama Aceh Teungku Ibrahim Bardan atau Abu Panton, meninggal dunia sekitar pukul 18.30 WIB di Rumah Sakit Herna, Medan, Sumatera Utara, Senin 29 April 2013.
Pemimpin Dayah Malikussaleh Panton Labu itu menderita penyakit hipertensi. Sebelum dirawat selama lima hari di Rumah Sakit Herna, Abu Panton sempat dirawat 15 hari di Rumah Sakit Materna, Medan. "Saat ini dalam proses membawa pulang jenazah Abu Panton ke Panton Labu, Aceh Utara," ujar keponakan Abu Panton, Attaillah, Senin sore. Rencananya, kata dia, pemakaman akan dilakukan di Dayah Malikussaleh, Selasa besok, 30 April 2013. Sebelum dibawa ke Medan, Abu Panton juga dirawat di Rumah Sakit Bunga Melati, Lhokseumawe. Kondisinya sempat normal. Namun setelah itu ia kembali dilarikan ke Medan, lalu selanjutnya berobat ke Penang, Malaysia.

Seulamat Jalan Abu Panton… Doa Rakyat Atjeh Sajan Droen.

Solusi Konflik di Mata Ulama ( Abu Panton)

Jauh sebelum Aceh menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), daerah ini sudah dilanda konflik. Anthony Reid, seorang ahli sejarah AsiaTenggara yang pernah belajar di Selandia Baru dan Cambridge, dalam bukunya “Asal Mula Konflik Aceh” menyebutkan konflik di Aceh sudah bergejolak sebelum nama Indonesia ada hingga akhir abad 19, saat Aceh menjadi bagian kesatuan NKRI. Konflik itu bermula saat agresi Belanda dan realpolitik Inggris mengorbankan banyak rakyat Aceh. Padahal, mula-mula Belanda mampir ke tanah Aceh, mereka disambut baik oleh masyarakat Aceh.
Ada hal yang memicu terjadinya konflik, yakni upaya pendekatan. Jika semula pendekatan yang dilakukan Belanda mampu ‘mencuri’ hati rakyat Aceh, pola dan sistem perdagangan merekalah yang membuat rakyat Aceh melawan. Hal ini selaras dengan kearifan yang hidup dalam masyarakat Aceh, “Ureueng Aceh hanjeut teupèh. Meunyo ka teupèh, bu leubèh han geujôk rasa, menyo hana teupèh, padé bijèh jeut tarasa.”Selanjutnya, konflik dipicu juga oleh hegemoni kekuasaan pemikiran pusat terhadap daerah-daerah—termasuk Aceh—sehingga sebuah kebenaran seolah hanya boleh ditentukan oleh para penguasa.
Nah, buku berjudul “RESOLUSI KONFLI DALAM ISLAM—Kajian Normatif dan Historis Perspektif Ulama Dayah” yang ditulis oleh Tgk. H. Ibrahim Bardan alias Abu Panton, ini mencoba mencari dan memberikan solusi terhadap pemecahan konflik di Aceh. Dari judulnya yang menggunakan frasa “Perspektif Ulama Dayah” sudah terkesan bahwa solusi/resolusi yang dipaparkan dalam buku terbitan Aceh Institute Press itu merupakan hasil pemikiran ulama dayah (pesantren) di Aceh. Artinya, penulis tidak membatasi bahwa resolusi konflik di Aceh juga dapat dilakukan melalui perspektif lainnya.
Namun demikian, satu hal yang tak dapat dipisahkan dari Aceh adalah Islam, dan ulama merupakan pemikir dalam Islam. Bahkan, dalam setiap konflik di Aceh, ulama selalu terlibat sebagai pencari solusi. Selain itu, pemimpin perang pun ada yang ulama, seperti Tgk. Chik Ditiro, Tgk. Chik Kuata Karang, Tgk. Chik Pante Kulu, Tgk. Fakinah, dan lain-lain. Oleh karena itu, buku berdasarkan perspektif ulama dayah ini akan membantu banyak pencarian solusi terhadap konflik di Aceh yang belum diketahui tuntasnya hingga entah kapan.
Menariknya, buku yang berisi 160 halaman ini mengupas habis konflik di Aceh, mulai dari sejarah dan dinamika yang terjadi masa Islam pertama sekali masuk ke Aceh, yakni masa bermulanya Kerajaan Samudera Pasai, hingga situasi Aceh masa sekarang (masa Abu Panton menulis buku) ini. Jika Reid dalam disertasinya untuk Cambridge University menghasilkan sebuah buku yang mampu menarik segenap penjuru dunia mendalami asal mula konflik di Aceh, maka buku Abu Panton ini dapat menjadi pelengkap penelitian Reid tersebut. Pasalnya, Reid hanya memantau asal mula konflik di Aceh, tanpa solusi. Akan tetapi, Abu Panton mencoba memberikan resolusi terhadap konflik yang terjadi. Karena itu, hemat saya, “Resolusi Konflik” Abu Panton dapat menjadi pelengkap “Asal Mula Konflik Aceh” Anthony Reid.
Hal yang sangat mencuat dalam “Resolusi Konflik” adalah mengenai suloh yang diadopsi dari bahasa Arab, al-shul, artinya perdamaian; penghentian perselisihan; penghentian peperangan. Hal ini menggambarkan betapa Abu Panton memang hendak mengupayakan sebuah resolusi terhadap konflik di Aceh. Sejarah al-shul pun dikupas secara ekspositoris sejak zaman Nabi Muhammad saw. hingga zaman kontemporer sekarang ini (1999-2006) demi mempermudah pembaca memahami makna al-shul tersebut (BAB DUA – BAB LIMA).
Pola-pola penerapan suloh ditulis dengan bahasa bertutur dengan menghadirkan tokoh dalam rentang waktu tertentu sehingga membacanya seolah kita seperti membaca kisah tauladan para sahabat, ambiya, ulama, dan orang-orang terpilih untuk diteladani. Gaya berkisah seperti ini, dengan bahasa yang ringan dan mudah dicerna, akan meringankan pembaca dalam memahami setiap makna yang hendak disampaikan. Hal tersebut menjadikan buku yang diberikan pengantar oleh Muhammad Nazar, S.Ag., Gubernur Aceh, ini menjadi semakin menarik untuk ditelisip.
Struktur dan Tens
Sekilas sudah dijelaskan beberapa hal menyangkut isi (tens) buku ini. Struktur yang dibangun mulai zaman sejarah hingga zaman pasca-MoU pun sudah diulas di atas. Adapun secara garis besar, buku ini terbagi dalamtujuh bab. BAB SATU mengulas tentang konsep perdamaian dan Islam yang di dalamnya dideskripsikan tentang pengertian al-shul dan ajaran islam tentang perdamaian. BAB DUA berisi refleksi sirah nabawi sebagai ragam praktik al-shul di zaman Rasulullah saw. BAB TIGA tentang refleksi sirah para sahabat nabi. BAB EMPAT menelaah sekilas sejarah Aceh dan dinamikanya. BAB LIMA tentang peran ulama dalam dinamika penyelesaian konflik pada rentang waktu 1999-2006. BAB ENAM berisi tentang ishlah, akhir dri DI/TII. Terakhir, BAB TUJUH memberikan gambaran tentang suloh Aceh sebagai kemaslahatan untuk kebersamaan. Bab terakhir inilah yang menjadi pelengkap telaah tentang solusi konflik Aceh, sebab adat dan Islam dalam masyarakat Aceh serupa tulang dan kulit, bunga dan kelopaknya, keduanya berkait erat dan tak bisa dilepaskan. Hal ini tercermin dalam hadih maja “Hukôm ngon adat lagè zat ngon sifeut”.
Kendati demikian, bukan berarti buku ini tak ada cacat. Sebagai manusia biasa, kesalahan atau paling kecil kesilapan pasti ada. Kesalahan yang sangat menggangu adalah pengulangan isi dan halaman. Hal ini terjadi pada halaman 129-146. Halaman yang berisi sembilan lembar dengan ulasan yang sama itu terdapat dua kali (double). Mungkin kesalahan ini ada pada tata letak atau semoga saja karena kesilapan cetak (print out). Namun, kesalahan yang murni oleh si penulis adalah pada penggunaan subhanahuwata’ala dan salallahu’alaihiwassalam saat menyingkat penulisannya. Seperti diketahui, singkatan yang ditulis semua dengan huruf kapital adalah singkatan yang huruf-huruf tersebut berupa huruf awal dari setiap kata yang hendak disampaikan. Misalnya, AGAM: A=Angkatan; G=Gerakan; A=Aceh; M=Merdeka. Akan tetapi, subhanahuwata’ala tidak dapat disingkat dengan SWT (kapital semua), sebab S,W, dan T, tidak dapat berdiri sebagai *Subhanu, *Wa, dan *Ta’ala. Namun, ia berupa satu kata sehingga jika disingkat dapat ditulis dengan swt. (lihat pedoman penulisan singkatan dan akronim). Demikian halnya dengan salallahu’alaihiwassalam, disingkat saw.
Kesalahan penulisan singkatan pada nama Allah dan Rasul-Nya ini memang lazim kita dapati. Karena itu, memperbaikinya pada buku-buku yang diterbitkan baru adalah sangat baik guna memberikan pendidikan kepada publik, seperti tujuan buku ini yang memberikan pendidikan resolusi konflik kepada publik.
Saya juga mendapati ketidakkonsistenan dalam buku ini, yakni seperti penulisan suloh. Ada yang ditulis suloh ada pula shulôh (halaman 152). Hal serupa juga terjadi pada kata hukôm kejröh, yang di halaman lain ditulishukom keujroh (tanpa tanda diakritik). Seharusnya, jika memang memakai diakritik, pakailah pada setiap kosa kata Aceh yang menghendaki tanda tersebut. Sebalinya, jika memang tidak mau menggunakan diakritik, jangan gunakan satu pun. Hal ini demi menjaga kekonsistenan dalam menulis.
Selain itu, juga terdapat kekeliruan pembubuhan tanda diakritik. Hal ini seperti pada halaman 153: Uleu beumatë rantëng bék patah, tatarëk panyang, talingkang paneuk. Perlu diketahui bahwa untuk vokal [e] dalam bahasa Aceh ada tanda grave [è] untuk kata seperti panè (mana/dari mana), lhèe (tiga), bèk (jangan), dan tanda aigu [é] untuk kata seperti lé (oleh), maté (mati), ranténg (ranting), dan lain-lain. Hal ini sesuai dengan ilmu linguistik tentang kajian fonologi bahasa Aceh. Dengan demikian, tulisah hadih maja di atas yang benar adalah Uleue beumaté ranténg bèk patah, tatarék panyang, talingkang paneuk (Ular harus mati ranting jangan patah, diurai akan panjang, disimpul akan pendek).
Memang belum kita temui kesepakatan apakah bahasa Aceh harus memakai tanda diakritik atau tidak. Namun, jika memang pada tulisan kita menggunakan tanda diakritik, semua kata yang menghendaki tanda dimaksud harus pula digunakan.
Masih pada tulisan dalam bahasa Aceh pada buku ini, tulisan uleue bukan uleu, sebab yang dipakai di sini adalah vokal rangkap [eue]. Begitu pula pada kata peudeung, meulinteung, dan ureung (halaman 150), seharusnya peudeueng, meulinteueng, dan ureueng.
Terlepas dari semua itu, “Resolusi Konflik dalam Islam, Kajian Normatif dan Historis Perspektif Ulama Dayah” ini tetap dapat dijadikan panduan, yakni panduan dalam mencari solusi terhadap konflik. Apalagi, buku yang di dalamnya juga memuat firman dan hadis ini turut didampingi pendiri dan pekerja Aceh Institute, menjadikan kita semakin yakin bahwa buku ini sudah mengalami telaah mendalam.
Yang sangat patut kita banggakan adalah si penulis, Abu Panton, merupakan seorang alumni dayah. Artinya, kegemilangan Aceh atas keberhasilan pena ulama-ulama terdahulu seperti Syekh Abduraruf as-Singkili, Ali Hasyimi, Nuruddin Ar-Raniry, akan kembali bersinar di zaman sekarang ini, zaman serba konflik. Insya Allah jika ulama sudah mulai menggenggam pena, Aceh akan kembali jaya. Amin!!! Itu makanya, saya menilai buku ini ibarat secercah air di tanah tandus. Sudah kita dapatkkan.

Ucapan KH. Said Aqil Dipelintir Oleh Arrahmah dan Voa-Islam

Written By pergunuaceh on Selasa, 12 November 2013 | 00.40


Seperti biasanya, penggembosan terhadap tokoh Nahdlatul Ulama (NU) dilakukan oleh media-media radikal untuk melancarkan serangannya. Tokoh yang sering digembosi lalu diblow up media mereka adalah KH. Said Aqil Siradj, Ketua Umum PBNU. Tujuannya tentu untuk melemahkan ormas terbesar di Indonesia tersebut karena ormas NU gencar menghadang faham radikal beragama yang diusung oleh media-medianya seperti Arrahmah.Com, Voa-Islam.Com, Nahimunkar.com, dan lain-lain.
Minggu, 12 Mei 2013 situs media islam online Arrahmah.Com menurunkan judul berita yang sangat tendensius, provokatif dan tidak sesuai dengan kenyataan: Ketua PBNU Said Aqil Siradj: Cikal bakal teroris itu rajin shalat malam, puasa dan hafal Qur'an. Di lain pihak media saudara kandungnya, Voa-Islam.Com menulis judul yang tak jauh beda: "PBNU: Cikal Bakal Teroris itu Rajin Shalat Malam, Puasa & Hafal Quran". Beberapa saat kemudian tulisan artikel tersebut di copy oleh beberapa media islam yang lain, terutama oleh media-media yang membenci terhadap Nahdlatul Ulama seperti Nahimunkar.Com dan lain-lain.
Apa yang orang fikirkan ketika membaca judul tersebut? tentu saja orang (orang awam -red.) akan menyimpulkan bahwa KH. Said Aqil Siradj itu terlalu tendensius terhadap islam, tidak menghargai agama Islam, tidak menghargai orang yang rajin shalat malam, puasa, dan hafal al-qur'an. Bahkan ada yang menyebutnya, "Apakah Said Aqil ini tidak pernah shalat malam, tidak pernah puasa, tidak hafal Al-Qur'an?". Tentu saja ini misi penyesatan terhadap umat yang dilakukan oleh media yang sangat hasud terhadap Nahdlatul Ulama, terutama ketua umumnya KH. Said Aqil Siradj.
Apa yang sebenarnya terjadi? 
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Prof. Dr. K.H. Said Aqil Siradj, M.A., mengungkapkan bahwa cikal bakal pemahaman radikalisme dan terorisme sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan para sahabat. Ia pun menceritakan sosok Dzulkhuwaisir, yang begitu sombong menyuruh Rasulullah berbuat adil.
“Nanti dari umatku akan muncul seperti orang ini, hafal Qur’an, dalilnya Qur’an tapi tidak melewati tenggorokannya. Artinya tidak paham secara substansif. Mereka itu sejelek-jelek manusia bahkan lebih jelek daripada binatang. Saya tidak termasuk mereka, mereka tidak termasuk kami,” kata Said Aqil Siradj saat menjadi narasumber Dialog Ormas-ormas Islam dalam Mempertahankan NKRI, di Sahid Hotel, Jakarta Pusat, pada Sabtu (11/5/2013).
Coba kita perhatian baik-baik pernyataan Ketua PBNU Said Aqil Siradj:
“Nanti dari umatku akan muncul seperti orang ini, hafal Qur’an, dalilnya Qur’an tapi tidak melewati tenggorokannya. Artinya tidak paham secara substansif. Mereka itu sejelek-jelek manusia bahkan lebih jelek daripada binatang. Saya tidak termasuk mereka, mereka tidak termasuk kami…. Prediksi Rasulullah ini terbukti tahun 40 H, Sayyidina Ali keluar dari rumahnya mengimami shalat Shubuh dibunuh, bukan oleh orang Kristen, bukan oleh orang Katholik, bukan oleh orang Hindu, bukan oleh orang nonmuslim. Yang membunuh Abdurrahman bin Muljam, qaimul lail, shaimun nahar, hafizhul Qur’an. Yang membunuh Sayyidina Ali ini tiap hari puasa, tiap malam Tahajjud, dan hafal Qur’an.”
Apa yang dikatakan Ketua PBNU Said Aqil Siradj itu tidak tendensius bagi kaum muslimin.
Bahwa sering mendirikan shalat malam, berpuasa di siang hari, dan hafal Al-Qur’an, adalah di antara gambaran seorang muslim yang taat, itu memang benar. Namun, tidak demikian dengan Khawarij. Mereka juga sering mendirikan shalat malam, berpuasa di siang hari, dan hafal Al-Qur’an, tapi tidak memahami ajaran Al-Qur’an secara substansif. Sebagaimana dikatakan Ketua PBNU Said Aqil Siradj, mengutip sabda Nabi Muhammad SAW, “Nanti dari umatku akan muncul seperti orang ini, hafal Qur’an, dalilnya Qur’an tapi tidak melewati tenggorokannya (tidak memahami ajaran Al-Qur’an secara substansif).” Akibatnya, ya itu tadi, bahkan Sayyidina Ali, yang nota bene seorang khalifah Islam, pun dibunuh oleh Khawarij.
Apa yg dikatakan KH. Said Aqil Siradj sebagaimana dijelaskan di dalam Kitab Majma’ Az-Zawaid wa Manba’ Al-Fawaid karya Al-Hafizh Nuruddin Ali bin Abu Bakar bin Sulaiman Al-Haitsami Al-Mishri pentahqiq Muhammad Abdul Qadir Ahmad ‘Atho penerbit Darr Al-Kutub Al-Ilmiah Beirut Libanon cetakan pertama 2001/1422 H juz 6 hal. 241-242 sbb:
10400 – وعن أبي سعيد الخدري أن أبا بكر الصديق جاء إلى النبي صلى الله عليه و سلم فقال : يا رسول الله إني بواد كذا وكذا فإذا رجل متخشع حسن الهيئة يصلي . فقال له النبي صلى الله عليه و سلم : ” اذهب فاقتله ” . ص . 336
قال : فذهب إليه أبو بكر فلما رآه على تلك الحال كره أن يقتله فرجع إلى رسول الله صلى الله عليه و سلم فقال النبي صلى الله عليه و سلم لعمر : ” اذهب فاقتله ” . فذهب عمر فرآه على الحال الذي رآه أبو بكر فرجع فقال : يا رسول الله إني رأيته يصلي متخشعا فكرهت أن أقتله . قال : ” يا علي اذهب فاقتله ” . فذهب علي فلم يره فرجع علي فقال : يا رسول الله إني لم أره . قال : فقال النبي صلى الله عليه و سلم : ” إن هذا وأصحابه يقرؤون القرآن لا يجاوز تراقيهم يمرقون من الدين كما يمرق السهم من الرمية ثم لا يعودون فيه حتى يعود السهم في فوقه فاقتلوهم هم شر البرية ” رواه أحمد ورجاله ثقات

10400- Dari Abu Said Al-Khudzri, sesungguhnya Abu Bakar As-Siddiq datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, ‘Ya Rasulullah, sesungguhnya aku dilembah itu dan itu, maka seketika ada seorang lelaki sedang dalam keadaan khusyu’ shalat.’ Maka bersabdalah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepadanya, “Pergilah dan bunuhlah dia.” Berkata (Abu Sa’id Al-Khudzri), maka pergilah Abu Bakar dan ketika dia melihnya dalam keadaan itu (sedang shalat) maka Abu Bakar enggan membunuhnya dan kembali kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka bersabdalah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Umar bin Khathab, “Pergilah dan bunuhlah dia.” Maka pergilah Umar bin Khathab, ketika dia melihnya dalam keadaan seperti itu (sedang shalat) sebagaimana yang dilihatnya oleh Abu Bakar maka dia kembali dan berkata, ‘Ya Rasulullah, aku melihatnya dia sedang khusyu’ shalat, maka aku enggan membunuhnya.’ Nabi bersabda, “Hai Ali, pergi dan bunuhlah dia.” Maka pergilah Ali dan tidak melihatnya kemudian Ali pulang dan berkata, ‘Wahai Rasulullah aku tidak melihatnya.’ Berkata (Abu Sa’id Al-Khudzri) maka Nabi Shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya ini (orang) dan teman-temannya mereka membaca Al-Quran tetapi tidak melewati kerongkongan mereka, mereka keluar dari agama Islam sebagaimana anak panah meluncur dari busurnya kemudian mereka tidak akan kembali didalamnya sehingga anak busur bisa kembali ketempatnya, maka BUNUHLAH (PERANGILAH) MEREKA, mereka adalah SEJELEK-JELEK CIPTAAN (manusia).” (HR. Ahmad dan rijalnya kuat) [Majma’ Az-Zawaid juz 6 hal. 241]
 10401– وعن أنس بن مالك قال : كان رجل على عهد رسول الله صلى الله عليه و سلم يغزو مع رسول الله صلى الله عليه و سلم فإذا رجع وحط عن راحلته عمد إلى مسجد الرسول فجعل يصلي فيه فيطيل الصلاة حتى جعل أصحاب رسول الله صلى الله عليه و سلم يرون أن له فضلا عليهم فمر يوما ورسول الله صلى الله عليه و سلم قاعد في أصحابه فقال له بعض أصحابه : يا رسول الله هو ذاك الرجل فإما أرسل إليه نبي الله صلى الله عليه و سلم وإما جاء من قبل نفسه فلما رآه رسول الله صلى الله عليه و سلم مقبلا قال : ” والذي نفسي بيده إن بين عينيه سفعة من الشيطان ” . فلما وقف على المجلس قال له رسول الله صلى الله عليه و سلم : ” أقلت في نفسك حين وقفت على المجلس : ليس في القوم خير مني ؟ ” . قال : نعم ثم انصرف فأتى ناحية من المسجد فخط خطا برجله ثم صف كعبيه فقام يصلي فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم : ” أيكم يقوم إلى هذا فيقتله ؟ ” . فقام أبو بكر فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم : ” أقتلت الرجل ؟ ” . فقال : وجدته يصلي فهبته . ص . 337

فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم : ” أيكم يقوم إلى هذا فيقتله ؟ ” . فقال عمر : أنا . وأخذ السيف فوجده يصلي فرجع . فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم لعمر : ” أقتلت الرجل ؟ ” . فقال : يا رسول الله وجدته يصلي فهبته . فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم : أيكم يقوم إلى هذا فيقتله ؟ ” . قال علي : أنا قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : ” أنت له إن أدركته ” . فذهب علي فلم يجده قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : ” أقتلت الرجل ؟ ” . قال : لم أدر أين سلك من الأرض . فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم : ” إن هذا أول قرن خرج في أمتي ” . قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : ” لو قتلته – أو قتله – ما اختلف في أمتي اثنان إن بني إسرائيل تفرقوا على إحدى وسبعين فرقة وإن هذه الأمة – يعني أمته – ستفترق على ثنتين وسبعين فرقة كلها في النار إلا فرقة واحدة ” . قلنا : يا نبي الله من تلك الفرقة ؟ قال : ” الجماعة “
قال يزيد الرقاشي : فقلت لأنس : يا أبا حمزة فأين الجماعة ؟ قال : مع أمرائكم مع أمرائكم
رواه أبو يعلى . ويزيد الرقاشي ضعفه الجمهور وفيه توثيق لين وبقية رجاله رجال الصحيح
وقد صح قبله حديث أبي بكرة وأبي سعيد

10401- Dari Anas berkata : Ada seorang lelaki pada zaman Rasulullah berperang bersama Rasulullah dan apabila kembali (dari peperangan) segera turun dari kenderaannya dan berjalan menuju masjid nabi melakukan shalat dalam waktu yang lama sehingga kami semua terpesona dengan shalatnya sebab kami merasa shalatnya tersebut melebihi shalat kami, dan dalam riwayat lain disebutkan kami para sahabat merasa ta’ajub dengan ibadahnya dan kesungguhannya dalam ibadah, maka kami ceritakan dan sebutkan namanya kepada Rasulullah, tetapi rasulullah tidak mengetahuinya, dan kami sifatkan dengan sifat-sifatnya, Rasulullah juga tidak mengetahuinya, dan tatkala kami sednag menceritakannya lelaki itu muncul dan kami berkata kepada Rasulullah: Inilah orangnya ya Rasulullah. Rasulullah bersabda : ”Sesungguhnya kamu menceritakan kepadaku seseorang yang diwajahnya ada tanduk syetan. Maka datanglah orang tadi berdiri di hadapan sahabat tanpa memberi salam. Kemudian Rasulullah bertanya kepada orang tersebut : ” Aku bertanya kepadamu, apakah engkau merasa bahwa tidak ada orang yang lebih baik daripadamu sewaktu engkau berada dalam suatu majlis. ” Orang itu menjawab: Benar”. Kemudian dia segera masuk ke dalam masjid dan melakukan shalat dan dalam riwayat kemudian dia menuju tepi masjid melakukan shalat, maka berkata Rasulullah: ”Siapakah yang akan dapat membunuh orang tersebut ? ”. Abu Bakar segera berdiri menuju kepada orang tersebut, dan tak lama kembali. Rasul bertanya : Sudahkah engkau bunuh orang tersebut? Abu Bakar menjawab : ”Saya tidak dapat membunuhnya sebab dia sedang bersujud ”. Rasul bertanya lagi : ”Siapakah yang akan membunuhnya lagi? ”. Umar bin Khattab berdiri menuju orang tersebut dan tak lama kembali lagi. Rasul berkata: ”Sudahkah engkau membunuhnya ? Umar menjawab: ”Bagaimana mungkin saya membunuhnya sedangkan dia sedang sujud”. Rasul berkata lagi ; Siapa yang dapat membunuhnya ?”. Ali segera berdiri menuju ke tempat orang tersebut, tetapi orang terebut sudah tidak ada ditempat shalatnya, dan dia kembali ke tempat nabi. Rasul bertanya: Sudahkah engkau membunuhnya ? Ali menjawab: ”Saya tidak menjumpainya di tempat shalat dan tidak tahu dimana dia berada. ” Rasulullah saw melanjutkan: ”Sesungungguhnya ini adalah tanduk pertama yang keluar dari umatku, seandainya engkau membunuhnya, maka tidaklah umatku akan berpecah. Sesungguhnya Bani Israel berpecah menjadi 71 kelompok, dan umat ini akan terpecah menjadi 72 kelompok, seluruhnya di dalam neraka kecuali satu kelompok ”. Sahabat bertanya : ” Wahai nabi Allah, kelompk manakah yang satu itu? Rasulullah menjawab : ”Al Jama’ah”. (Majma’ Az-Zawaid juz 6 hal. 242).
Jadi, justru Ketua PBNU Said Aqil Siradj mengingatkan agar kita, kaum muslimin, memahami ajaran Al-Qur’an secara benar, sehingga tidak picik seperti Khawarij, yang akibat kepicikannya itu mereka main bunuh saja. Bahkan, seorang khalifah, yang nota bene pemimpin umat Islam, pun mereka bunuh karena kepicikan itu. Itulah yang seharusnya dimuat dan dipaparkan oleh media-media radikal yang hanya bisa memecah belah ummat islam seperti Arrahmah.Com, Voa-Islam.Com, dan Nahimunkar.Com!

Tim Sarkub (www.sarkub.com)
Diolah dari berbagai sumber


Sumber di: http://www.sarkub.com/2013/ucapan-kh-said-aqil-dipelintir-oleh-arrahmah-dan-voa-islam/#ixzz2kQ0JL3vw

KAJIAN ISLAM

Selanjutnya »
 
Desainer: Abiya
Copyright © 2014. Dayah Mahyal Ulum Al-Aziziyah
Sekretariat: Jl. Banda Aceh-Medan Km.16,8 Sibreh Aceh Besar